Bahaya Impor dan Pembakaran Sampah Plastik
By administrator | Berita Nusantara | No Comments
Kita sering menganggap daur ulang sebagai solusi sampah plastik, tetapi sebagian besar sampah plastik sekarang berakhir di tempat pembakaran yang memperburuk kualitas udara tiap tahunnya.
Sampah plastik sudah diperdagangkan antar negara. Sampah plastik dikirim ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, salah satunya Indonesia. Di mana pembakaran terbuka adalah cara umum untuk menangani kelebihan sampah. Hasilnya, peningkatan yang signifikan dalam polusi udara beracun.
Pembakaran sampah plastik dan dampak kesehatan.
Antara 40% dan 65% dari total sampah dibakar secara terbuka di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, sebagian besar sebagai akibat dari 2 miliar orang di seluruh dunia yang tidak memiliki layanan pengumpulan sampah padat perkotaan.
Pembakaran terbuka terjadi baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Tempat pembuangan sampah terbuka yang berisi sampah organik terbakar secara spontan karena panas yang dihasilkan saat sampah terurai.
Ketika plastik terbakar, ia melepaskan polutan udara yang sangat beracun. Partikel-partikel halus dapat menembus jauh ke dalam tubuh manusia, bersama dengan gas-gas yang meliputi karbon monoksida, gas stirena, dan hidrogen sianida. Pembakaran plastik terbuka juga melepaskan polutan yang tidak bisa hilang seperti hidrokarbon aromatik polisiklik dan dioksin. Partikel dan gas ini telah dikaitkan dengan risiko kesehatan mulai dari penyakit pernapasan dan kardiovaskular, kanker serta gangguan reproduksi dan neurologis.
Abu dari pembakaran plastik terbuka juga dapat mencemari tanah dan air tanah dengan logam berat, dan zat beracun lainnya, sehingga meningkatkan peluang orang untuk terpapar zat-zat tersebut melalui makanan dan air.
Perdagangan Limbah Plastik Global
Limbah plastik dikirim ke seluruh dunia – sebagian untuk didaur ulang dan sebagian besar hanya dibuang di tempat pembuangan sampah atau dibakar. Pada tahun 2024, tercatat impor limbah plastik dunia adalah sebesar 9,34 juta metrik ton, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ke mana saja limbah plastik ini diekspor?
Pada tahun 2018, Tiongkok berhenti mengimpor limbah plastik, menyebabkan jumlah total limbah plastik berpindah antar negara. Antara tahun 1992 dan 2016, impor limbah plastik Tiongkok mencapai 45% dari impor global.
Pada tahun 2018, aliran limbah plastik bergeser ke negara lain. Sebagian besar di Asia Tenggara tetapi juga lokasi lain, termasuk Turki. Pada tahun 2018, Indonesia menjadi importir bersih limbah plastik. Sebagian besar limbah ini berasal dari Eropa Barat, Australia, dan Amerika Utara.

Apa yang Terjadi Pada Kualitas Udara Indonesia?
Berdasarkan data dari berbagai sistem pemantauan, termasuk pengamatan satelit dan sinyal pelacakan kapal kargo. Pada tahun 2020, Forum Ekonomi Dunia dan pemerintah Indonesia memperkirakan bahwa 48% sampah plastik Indonesia dibakar secara terbuka.
Ditemukan bahwa polusi udara sangat mengkhawatirkan bagi kesehatan. Polusi meningkat rata-rata 3,3% di lokasi tempat pembuangan sampah terbuka besar di Indonesia. Terutama setelah larangan China pada tahun 2018-19, terjadi peningkatan hingga 1,68 mikrogram per meter kubik.
Berdasarkan perkiraan risiko dari studi global tentang mortalitas yang terkait dengan paparan jangka panjang terhadap partikel halus di luar ruangan. Ini setara dengan peningkatan risiko mortalitas sekitar 1,5%, 1,9%, dan 3,5% dari penyakit paru kronis, kanker paru-paru, dan infeksi saluran pernapasan.
Cara Mengurangi Limbah Plastik dan Pembakaran Sampah
Pada tahun 2021, hanya 5% hingga 6% limbah plastik domestik AS yang didaur ulang, menurut perkiraan dari kelompok advokasi Beyond Plastics dan Bennington College. Kini semakin sulit untuk mengekspor limbah plastik ke negara lain yang dapat “mendaur ulangnya”.
Sebagian dari masalahnya adalah kurangnya kapasitas. Asosiasi Pendaur Ulang Plastik memperkirakan bahwa fasilitas reklamasi plastik saat ini di AS dan Kanada paling banyak hanya dapat meningkatkan daur ulang plastik mereka sebesar 35% hingga 44%. Tergantung pada jenis plastiknya, sehingga menghasilkan tingkat daur ulang total sebesar 7% hingga 9%.
Pada akhirnya, akan lebih baik jika mengurangi penggunaan plastik berlebih daripada daur ulang. Peningkatan teknologi daur ulang kemungkinan akan diperlukan untuk menyelesaikan masalah ini. Di luar itu, penggunaan kembali, dan memilih plastik yang aman dan tahan lama adalah solusi. Yaitu dengan menggunakan kembali bahan yang sama, dapat mengurangi kebutuhan akan plastik baru.
Pilih dan gunakan plastik dengan aditif yang mampu mengurangi waktu plastik tersebut terurai. Dengan begitu, sampah plastik akan lebih cepat menghilang secara alami dan mencegah polusi plastik berlebih.
Pada akhirnya, mengurangi dan mengelola limbah plastik negara kita dengan lebih baik dapat membantu mencegah bahaya kesehatan global.