Apakah Bahan Silikon Lebih Baik Dari Plastik?
By administrator | Uncategorized | No Comments
Kalau bicara mengenai alternatif pengganti plastik, banyak orang sering menjawab silikon. Tapi apakah silikon benar-benar lebih baik daripada plastik?
Silikon sendiri memang sering digunakan untuk membuat berbagai macam produk. Dari mainan bayi, spatula, alas kue, hingga, komponen elektronik dan alat medis. Bahan ini sering dipasarkan sebagai alternatif “ramah lingkungan” dan “sehat” pengganti plastik. Produk silikon juga biasanya dibuat agar dapat digunakan kembali. Sementara banyak plastik dirancang hanya untuk sekali pakai. Dan karena silikon terasa, terlihat, dan berfungsi sangat mirip dengan plastik konvensional, bahan tersebut mungkin tampak seperti alternatif yang bagus.
Namun, silikon secara teknis adalah salah satu jenis plastik. Dan karenanya, seperti semua plastik, silikon tidak sepenuhnya bebas dari risiko lingkungan dan kesehatan.
Masalah Umum Plastik Dan Apakah Silikon Sebuah Solusi
Produksi plastik global telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir. Dimana sampah plastik yang tidak terurai dengan baik akan menjadi menjadi mikroplastik. Mikroplastik adalah bahaya yang dikaitkan dengan kanker, masalah reproduksi, dan polusi ekosistem seperti terumbu karang.

Plastik melepaskan bahan kimia ke dalam makanan, karena terbuat dari bahan bakar fosil, dan tidak mudah didaur ulang. Bahan tersebut menyebabkan penumpukan sampah plastik dalam jangka panjang di tempat pembuangan akhir.
Silikon adalah polimer yang terbuat dari silikon dan oksigen, dipasarkan sebagai bahan yang lebih aman dan ramah lingkungan. Para ahli memperingatkan bahwa silikon bukanlah bahan inert dan juga dapat menimbulkan risiko. Penelitian menunjukkan bahwa peralatan masak silikon dapat melepaskan bahan kimia ke dalam makanan, terutama makanan berlemak. Studi tahun 2010 menemukan jumlah mengejutkan dimana silikon bermigrasi ke dalam daging cincang yang dimasak dalam loyang silikon. Lemak dari makanan juga dapat meresap ke dalam loyang silikon, menyebabkan bau tengik setelah penggunaan berulang.
Apa Bahan Utama Silikon?
Seperti plastik berbahan bakar fosil konvensional, silikon adalah polimer. Artinya, silikon adalah zat yang terbuat dari molekul-molekul yang tersusun dari rantai berulang identik dari molekul lebih kecil yang disebut monomer. Alih-alih terbuat dari rantai berulang karbon dan hidrogen, silikon terbuat dari rantai berulang oksigen dan unsur lain yang disebut silikon. Silikon diperoleh secara industri dengan memanaskan silika, yang ditemukan dalam pasir dan kuarsa, pada suhu yang sangat tinggi. Silikon kemudian disintesis secara kimia dengan hidrokarbon yang berasal dari bahan bakar fosil untuk membuat molekul berulang dalam silikon, yang disebut siloksan. Jadi, silikon bukanlah material “alami”.
Silikon dapat dibuat menjadi hampir semua produk. Sering kali memiliki tekstur dan penampilan plastik seperti karet. Namun, bahan ini jauh lebih tahan suhu dan tahan lama daripada kebanyakan plastik biasa yang kurang reaktif terhadap bahan kimia. Silikon tahan air dan permeabel terhadap gas, yang membuatnya berguna dalam aplikasi medis atau industri di mana aliran udara diperlukan. Sifatnya juga mudah dibersihkan, dengan sifat anti lengket dan tidak meninggalkan noda, sehingga populer untuk peralatan masak, peralatan makan dan mainan anak-anak.
Silikon Masih Bisa Mengeluarkan Bahan Berbahaya
Banyak produk silikon telah lama diberi label “aman untuk makanan,” sedangkan hanya sedikit plastik yang mendapatkan status ini. Selain itu, produk silikon sering dipasarkan sebagai produk yang bebas bisphenol-A (BPA) dan aditif kimia lainnya. Silikon yang dikatalisis dengan unsur platinum sering dianggap lebih murni, hampir “berkualitas medis,” dan sering dipasarkan sebagai produk berkualitas lebih tinggi dan lebih aman daripada silikon standar. Namun, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa bahkan silikon berkualitas tertinggi pun belum tentu seaman yang telah diberi label.
Para ahli menemukan bahwa produk silikon dapat larut ke lingkungan dan tubuh kita. Peraturan di Uni Eropa (UE) mengharuskan silikon yang digunakan untuk kontak dengan makanan agar tidak melepaskan bahan kimia dalam kadar tertentu. Namun, beberapa pelepasan masih terbukti terjadi, bahkan pada produk yang sudah ketat aturannya.
Dalam sebuah penelitian, para peneliti menemukan bahwa 84% dari 42 produk peralatan masak dan makanan berbahan silikon mengandung bahan kimia pengganggu endokrin (EDC). Selain itu, para peneliti di Uni Eropa menemukan bahwa bahan kimia yang perlu diwaspadai dapat bermigrasi dari beberapa cetakan kue silikon ke dalam makanan. Studi lain menemukan bahwa pelarutan kimia siloksan meningkat seiring dengan peningkatan kandungan lemak pada makanan yang dimasak dengan peralatan masak silikon.
EDC telah dikaitkan dengan perkembangan gangguan autoimun, kanker yang sensitif terhadap hormon, obesitas dan disfungsi metabolik, gangguan neurologis dan perilaku, kerusakan sistem saraf, dan masalah reproduksi seperti infertilitas.

Solusi Alternatif untuk Plastik dan Silikon
Kami paham bahwa sulit untuk mengganti kotak makan dan peralatan dapur silikon, mengingat berapa lama telah dan dapat menggunakannya.
Namun, jika benar-benar ingin untuk menjalani gaya hidup berkelanjutan, ketahuilah bahwa ada alternatif yang lebih baik di luar sana. Alternatif ini dapat berfungsi sama baiknya dengan silikon tetapi tanpa dampak lingkungan yang terkait dengan produksi dan pembuangannya. Bahan-bahan ini meliputi:
- Kaca
- Baja tahan karat
- Bambu
- Karet alami
- Asam Polilaktat (PLA)
- Rami
- Kapas organik
- Pembungkus lilin lebah (beeswax)
Semua bahan ini terbuat dari sumber daya terbarukan dan diproduksi dengan menggunakan lebih sedikit energi dan air.
Jika mengharuskan menggunakan plastik atau silicon, beri aditif yang mampu mengurai plastik secara alami tanpa membuatnya jadi mikroplastik. Bahan-bahan ini tidak beracun, dapat terurai secara hayati, dan dapat didaur ulang, sehingga cocok untuk berbagai aplikasi, mulai dari peralatan dapur hingga perawatan kulit. Banyak di antaranya juga cukup tahan lama untuk digunakan selama bertahun-tahun, sehingga tidak perlu sering menggantinya.
Kami sangat setuju bahwa silikon adalah material yang sangat baik. Namun, karena kami selalu mengadvokasi keberlanjutan, dampak lingkungan dari pembuangan silikon dan sifatnya yang tidak dapat terurai secara hayati tetap menjadi perhatian. Karena alasan itu, harus selalu ada keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kebutuhan planet ini. Meskipun kita tidak selalu dapat menghindari plastik dan bahan kimia plastik, melakukan perubahan dalam hidup untuk menghilangkan plastik dapat membantu mengurangi paparan kimia berbahaya.